Amanah untuk Diri

Tak perlulah kau bimbangkan ketangguhan belajar anak-anakmu... karena semua anak sejak lahir adalah saintis, sebagai bekal fitrah berinovasi seorang Wakil Tuhan di muka bumi. Tanyalah seberapa semangat dirimu membersamai kehausan mereka belajar tanpa menjejalkan.

Paragraf diatas merupakan penggalan pesan dari Ustadz Harry Santosa dalam materi Fitrah Based Education yang dibagikan melaui postingan akun sosial @fitrahbaseedu. Postingan yang diunggah 2 (dua) hari yang lalu, terlintas dalam ingatan ditengah perjalanan pulang sore tadi. 

Postingan yang membuat saya teringat anak-anak didik saya, ketika mereka antusias memperhatikan materi yang saya ajarkan. Mereka seperti seorang anak yang terlahir dalam keadaan suci yang haus akan ilmu, dan kitalah yang memberi bekal ilmu pada mereka.

Antusias mereka membuat saya bersemangat memberikan yang terbaik dan merasa bersalah jika melakukan kelalaian atau tidak mampu menjelaskan dengan baik. Ya... anak-anak itu dititipkan oleh orang tuanya kepada kita sebagai pengajar untuk dibekalkan ilmu pengetahuan.

Andai setiap pengajar menyadari itu, meski saya pun belum mampu menjadi pengajar yang baik namun saya miris ketika mendengar banyak pengajar yang memberikan ilmu ala kadarnya. Masuk kelas hanya untuk sekedar mengabsen anak didiknya dan memberikan tugas, lalu dengan mudahnya meninggalkan kelas tanpa merasa bersalah sedikitpun.

Namun kembali lagi pada pribadi masing-masing, karena setiap orang memiliki segi pandang yang berbeda. Perlu lah kita ingat kembali pada hal yang pasti, bahwa kelak semua akan dimintai pertanggungjawaban diakhirat nanti. Semoga kita selalu bisa mengemban amanah yang dipercayai, sehingga dapat menjadi salah satu pemberat amalan diri. 

Comments

  1. iya aku tahu benar rasanya, ketika anak-anak semangat belajar dan diskusi topik yang sedang dibahas pada hari itu. tapi, tidak setiap hari begitu. ada kalanya anak-anak malas atau lelah.

    ReplyDelete
  2. Guru..
    Salah satu pekerjaan mulia.

    Jadi inget waktu SMP, guru bahasa daerah, setiap masuk ke kelas, cuman kasih tugas, salin halaman sekian, lalu kumpulkan di meja.

    Setiap jam pelajaran selalu seperti itu, selama 3th.😁

    ReplyDelete
  3. Masih teringat kisah piluku di waktu TK, di mana aku terpaksa pindah sekolah karena guru-guruku saat itu ga mau membimbingku karena aku terlalu kaku. Tapi untungnya ketika pindah sekolah, aku terus berkembang

    ReplyDelete
  4. wah kayaknya menarik jadi seorang guru, tp harus extra sabar juga ya soalnya nanggepin sifat anak anak itu engga sama

    ReplyDelete
  5. aamiin, amanat yang perlu pertanggungjawaban ya kak kelak nanti.

    ReplyDelete
  6. Hampir 6 tahun mengajar di sekolah, ada banyak yang saya temui sebelum akhirnya memutuskan untuk "angkat kaki". Salah satunya, teori ataupun metodologi pembelajaran dan pengajaran sangat banyak bisa kita ATM. Tapi satu yang nggak bisa ditiru yaitu empati dan ketulusan hati.

    ReplyDelete
  7. Aku masih ingin diajari, belum siap utk mengajari

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Resensi Buku "Hidup Sekali, Berarti, Lalu Mati"

Letak Geografis Jazirah Arab

Perbedaan dan Persamaan Tradisi Negara Indonesia dan Arab