4 Tingkatan, Cara Manusia Menghadapi Ujian Dunia

[source image : here]
Dunia merupakan tempat singgah sementara, tempat dimana kita diuji dengan segala permasalahan kehidupan. Tempat mengumpulkan bekal menuju kehidupan yang kekal. Ya... dunia yang fana, hina dan tak ada artinya namun kita sering terlena dibuatnya. Di dunia kita akan bertemu dengan berbagai ujian, bahkan pujian bisa jadi ujian yang melenakan. Dalam salah satu buku gagasan @sahabatmuslimah, terdapat 4 (empat) tingkatan, cara manusia menghadapi ujian yaitu :

1. Marah
Seringkali kita mudah menyalahkan takdir diri yang tidak sesuai dengan kehendaknya, lisan sibuk mengeluh, menyalahkan orang lain, menyalahkan keadaan bahkan menyalahkan Allah hingga menyakiti diri sendiri. Ini merupakan output yang salah, dimana kita hanya menghabiskan energi dan membuang waktu percuma. Cobalah sikapi suatu permasalahan dengan bijak, dengan menenangkan diri tanpa terbawa emosi.

2. Sabar
Tidak mudah memang untuk menyikapi sebuah permasalahan dengan rasa sabar, yang pahit diawal namun manis akhirnya. Disini keimanan lah yang melindunginya dari amarah. Dengan bersabar kita bisa menghemat energi dan menenangkan pikiran. Bahkan Allah memerintahkan kita dalam firman-Nya, yang kurang lebih artinya jadikan sabar dan solat sebagai penolongmu. 

3. Ridha
Merupakan tingkatan lebih tinggi dari sabar, seseorang yang ridha tidak akan gusar ketika dihadapkan pada permasalahan. karena ia yakin bahwa itu merupakan ketetapan dari Allah untuknya. Rasa ridha akan membuat hati kita lapang dalam menghadapi segala ujian yang datang

4. Syukur
Tingkatan tertinggi seseorang menghadapi ujian adalah ketika ia bersyukur atas ujian kehidupan yang menimpanya. Ujian tersebut justru dijadikannya sebagai peringatan atas diri serta meyakini bahwa apa yang telah Allah takdirkan adalah yang terbaik untuknya.

Janganlah mudah mengeluhkan suatu permasalahan yang menimpa kita, karena bisa jadi terdapat kebaikan yang tidak kita ketahui. Maka ambillah hikmah dari setiap permasalahan yang menimpa, sehingga dapat menjadi perbekalan ilmu menghadapi kehidupan dunia. 

Comments

  1. Sampai saat ini, aku masih blm bijak menghadapi masalah. Semoga ke depannya aku dpt lebih ikhlas menghadapi permasalahan

    ReplyDelete
  2. Terdengar mudah, namun suliiit sekali prakteknya..

    Terimakasih sudah mengingatkan

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Resensi Buku "Hidup Sekali, Berarti, Lalu Mati"

Letak Geografis Jazirah Arab

Perbedaan dan Persamaan Tradisi Negara Indonesia dan Arab