Dendam Positif
Kegaduhan yang tak biasa terjadi pagi itu, ditengah upacara bendera nampak dua orang anak berkelahi dikelilingi anak-anak lain yang sibuk menyemangati. Sontak para guru berlarian mencoba menengahi, bertanya-tanya apa yang terjadi. Seorang anak terlihat mengelap hidungnya yang mengalirkan darah, anak yang lain tak kalah lebih memprihatinkan keadaannya. Mereka digiring masuk ke sebuah ruangan, anak-anak lain sibuk mencoba mengintip dan menguping sambil berdesakkan.
"Aku tidak salah, kenapa aku harus meminta maaf?", terdengar suara samar dari dalam ruangan.
Tak lama datang seorang wanita yang berpenampilan biasa, kemudian disusul seorang pria dengan penampilan rapi lengkap dengan jas yang dipakainya. Mereka memasuki ruangan yang dikepung anak-anak disekelilingnya. Suasana nampak semakin menegang, karena mereka tak kunjung keluar dari ruangan.
"Anak-anak semuanya masuk ruang kelas masing-masing." seorang guru memperingatkan.
Dengan pasrah, mereka berlarian ke ruangan masing-masing. Namun ada beberapa anak yang bertanya, "Bu, bagaimana keadaan Angger? kulihat sepertinya dia hampir pingsan tadi." belum sempat sang guru menjawab, anak lain juga antusias bertanya "Siapa yang salah bu? Tak biasanya Angger berkelahi seperti tadi." Mereka nampak begitu penasaran, namun seperti ada yang ditutupi. Sang guru tidak menjawab dan meminta mereka kembali keruangan.
Dering bel berbunyi, pertanda jam masuk kelas dimulai. Anak-anak yang masih diluar ruangan, seketika berhamburan ke ruang kelas masing-masing. Dalam sekejap halaman sekolah sepi dari hiruk pikuk anak-anak, menyisakan beberapa petugas kebersihan yang sedang sibuk membersihkan halaman sekolah serta petugas keamanan yang siap berjaga.
Beberapa jam setelahnya, nampak kedua anak yang berkelahi tadi diiringi masing-masing orang yang pendamping mereka, keluar dari ruangan. Mereka berdua terpaksa dipulangkan untuk menghindari, hal yang sama terulang kembali. Keduanya nampak masih bersitegang dengan muka masam, tanpa saling sapa.
Keesokan harinya setiba di ruang kelas, Angger dikerumuni teman-temannya yang sibuk menanyakan padanya perihal perkelahiannya dengan Boni. Angger hanya tersenyum dan berlalu pergi, enggan memberikan penjelasan pasti. Didik teman dekatnya segera mengejarnya, ia heran tak biasanya Angger bersikap demikian. Angger merupakan salah satu anak berprestasi, ia dikenal ramah pada setiap orang. Hal tersebutlah yang membuat teman-temannya tak percaya bahwa ia berkelahi dengan Boni.
"Woy, tungguin ane ngger. Oke ga apa ente ga mau cerita sekarang, ane yakin ente punya alasan tersendiri. Ane cukup kenal ente dengan baik, kuy lah kita ke kantin. Ane laper belum sarapan." Tukas Didik mengajak Angger untuk sarapan bersama di kantin sekolah.
Di kantin mereka disapa dengan tatapan sinis anak-anak yang sibuk menyebut-nyebut namanya. Namun Angger tidak mempedulikannya, ia tetap tersenyum ramah pada mereka. "Ngger, ente mau sarapan apa? tenang ane yang bayar." ucap Didik yang seperti sengaja mengalihkan fokus Angger dari anak-anak lain yang memandangnya dengan sinis. Didik adalah teman baik Angger, mereka sudah berteman sejak duduk dibangku sekolah dasar.
Hari itu Boni tak nampak hadir sekolah, tidak ada yang tau alasan ketidakhadirannya. Sesekali Angger pun nampak terlihat memandangi tempat duduk Boni, ia nampak menyesal dengan kejadian kemarin.
"Halo selamat siang, benar ini dengan keluarga Boni?" Terdengar suara seorang wanita dalam percakapan telepon.
"Benar, saya Tina pembantu rumah tangga disini. Ada apa ya bu?."
"Saya Amel wali kelas Boni, saya ingin memastikan apakah Boni baik-baik saja? karena hari ini Boni tidak hadir sekolah."
"Boni baik bu, tadi pagi ia pergi untuk berangkat sekolah. Ia memakai seragam dan membawa tas sekolahnya bu. Sekarang ia belum pulang."
"Tolong sampaikan kepada Boni untuk menemui saya besok pagi sebelum jam masuk sekolah."
"Baik bu, nanti akan saya sampaikan pada Boni."
"Terima kasih bu dan selamat siang."
Selepas telepon ditutup, tak lama Boni pulang tanpa mengucap salam dan bergegas masuk ke kamar. "Mas Boni tadi Bu Amel menelpon, besok mas Boni diminta menemui beliau sebelum jam masuk sekolah. Tadi Mas Boni kenapa tidak masuk sekolah?." Bi Tina langsung menyergap bertanya. Namun Boni mengacuhkannya, ia mendengarkan tanpa memberi jawaban. Ia tetap berjalan memasuki kamarnya.
"Astaghfirullah, paringono sabar gusti." Ucap Bi Tina sambil mengelus dada.
Singkat cerita, esoknya Boni datang langsung menemui Bu Amel. Tanpa salam seketika ia duduk didepan meja Bu Amel.
"Ibu meminta saya menemui ibu hari ini? Ada apa bu?" ucap Boni, tanpa rasa canggung dan bersalah.
"Kamu kenapa kemarin tidak masuk Boni?" Tanya Bu Amel.
"Ga apa-apa bu, saya males aja. Kenapa ibu peduli? Orang tua saya saja tidak mau tau keadaan saya. Mereka hanya sibuk dengan pekerjaannya. Saya berkelahi saja mereka tidak tahu, yang datang justru Bi Tina. Jadi untuk apa saya rajin datang sekolah bu?" Ucap Boni dengan nada ketus.
"Baik, sepertinya kita perlu keluar menghirup udara segar sebentar. Hari ini kamu tidak perlu masuk kelas, nanti akan ibu izinkan pada guru yang mengajar hari ini. Kamu ikut ibu ya, kita keliling kota Jakarta." Bu Amel dengan tenang menanggapi, beliau mulai mengerti sebab kenakalan Boni.
Boni mengangguk menandakan ia menyetujuinya. Mereka bergegas pergi setelah Bu Amel meminta izin guru lain untuk pergi keluar. Mereka berlalu dengan mobil yang dikendarai Bu Amel. Di tengah perjalanan Bu Amel memanfaatkan kesempatan untuk membangun kedekatan dengan Boni. Mereka berbincang ringan, terlihat Boni mulai tertawa lepas dan melupakan permasalahan yang terjadi.
Sekitar 30 menit perjalanan, mereka tiba di daerah pemukiman kumuh pinggiran kota Jakarta. Boni dengan muka heran bertanya, "Kita ngapain kesini bu?". Bu Amel tersenyum tidak menjawab dan mengajak Boni turun mobil, mereka berjalan menyusuri pemukiman kumuh. Memandangi para pemulung dan anak-anak jalanan yang sibuk berlalu lalang mencari uang demi sesuap makan.
"Coba kita perhatikan mereka, mereka tanpa mengeluh tetap riang meski dihimpit oleh kesulitan ekonomi. Mereka adalah anak-anak yang berharap bisa sekolah, namun keadaan ekonomi tidak mendukungnya. Mereka yang menyembunyikan kesedihan dibalik tawa riang. Tidakkah kamu bersyukur Boni? Coba sebentar saja kamu bayangkan, bagaimana jika kamu ada diposisi mereka?" Ucap Bu Amel mencoba menyadarkan Boni.
"Ini bukan kemauan mereka, namun keadaan yang memaksa mereka untuk terus bekerja dan melupakan keinginan mereka untuk bersekolah. Kita boleh saja mengeluh, namun jangan sampai menyerah. Rezeki memang sudah Tuhan jaminkan, namun kita tetap harus berusaha. Kamu begitu beruntung, orang tua kamu mampu membiayaimu untuk sekolah. Jadi pesan ibu, jangan sia-siakan itu. Boleh saja kamu mengeluh ketika mereka lebih sibuk bekerja, namun sebenarnya mereka menyayangimu lebih dari yang kamu tahu." Sambung Bu Amel.
Boni nampak diam merenungi ucapan Bu Amel, ia nampak setuju dengan ucapan Bu Amel meski raut wajahnya masih nampak sedikit tidak terima.
"Jadi ayo Boni, buktikan pada orang tua kamu bahwa kamu mampu berprestasi. Cari perhatian dengan cara yang positif, dengan pembuktian prestasi. Saya yakin kamu mampu, jika ada kemauan pada dirimu. Saya akan selalu dukung kamu, saya mungkin tidak bisa menggantikan kasih sayang mereka namun setidaknya kamu tahu. Masih ada orang yang akan menjadi pendukungmu selain orang tuamu. Semangat Boni." Ucap Bu Amel menyemangati Boni.
"Oh ya, kalau boleh saya tahu, sebenarnya apa sebab kamu dan Angger berkelahi?" Tanya Bu Amel dengan rasa penasarannya.
"Itu karena saya mengejeknya, saya iri dengannya yang berprestasi dan orang tuanya selalu hadir ketika pembagian rapot. Terlihat seperti hidupnya begitu sempurna, berbeda dengan saya. Jika ada pertemuan orang tua pun, yang hadir selalu Bi Tina. Orang tua saya selalu sibuk dengan pekerjaannya. Setiap saya pulang, tidak ada yang menyambut. Mereka selalu pulang larut ketika saya sudah tidur dan berangkat ketika saya belum bangun. Selalu seperti itu, membuat saya tidak betah dirumah." Ucap Boni dengan muka masamnya.
"Baik, ibu paham bagaimana perasaaan kamu. Mulai hari ini kamu harus lebih rajin lagi belajar, buktikan pada orang tua kamu jika perjuangan mereka tidak sia-sia. Kita harus berpikir positif dalam menghadapi suatu hal, sebentar lagi ujian sekolah. Buktikan bahwa kamu berprestasi, belajar lebih giat agar dapat masuk perguruan tinggi yang kamu ingini." Ucap Bu Amel.
Mereka kembali ke mobil dan Bu Amel mengantar Boni pulang ke rumahnya.
Waktu berlalu ujian sekolah pun tiba, para siswa sibuk mempersiapkan diri. Boni termasuk didalamnya, ia sudah berubah semenjak pertemuannya kala itu dengan Bu Amel. Ia menjadi anak yang lebih rajin datang sekolah dan tidak pernah berkelahi, meski ia belum sepenuhnya berhubungan baik dengan Angger. Namun mereka tetap berteman seperti anak-anak pada umumnya.
Singkat cerita hasil ujian sekolah diumumkan, meski Boni tidak menjadi juara umum seperti Angger, namun ia menjadi juara diperingkat ketiga. Hubungan dengan orang tuanya pun nampak membaik, orang tuanya menghadiri kelulusan SMA Boni. Mereka berfoto bersama dengan bahagia.
"Aku tidak salah, kenapa aku harus meminta maaf?", terdengar suara samar dari dalam ruangan.
Tak lama datang seorang wanita yang berpenampilan biasa, kemudian disusul seorang pria dengan penampilan rapi lengkap dengan jas yang dipakainya. Mereka memasuki ruangan yang dikepung anak-anak disekelilingnya. Suasana nampak semakin menegang, karena mereka tak kunjung keluar dari ruangan.
"Anak-anak semuanya masuk ruang kelas masing-masing." seorang guru memperingatkan.
Dengan pasrah, mereka berlarian ke ruangan masing-masing. Namun ada beberapa anak yang bertanya, "Bu, bagaimana keadaan Angger? kulihat sepertinya dia hampir pingsan tadi." belum sempat sang guru menjawab, anak lain juga antusias bertanya "Siapa yang salah bu? Tak biasanya Angger berkelahi seperti tadi." Mereka nampak begitu penasaran, namun seperti ada yang ditutupi. Sang guru tidak menjawab dan meminta mereka kembali keruangan.
Dering bel berbunyi, pertanda jam masuk kelas dimulai. Anak-anak yang masih diluar ruangan, seketika berhamburan ke ruang kelas masing-masing. Dalam sekejap halaman sekolah sepi dari hiruk pikuk anak-anak, menyisakan beberapa petugas kebersihan yang sedang sibuk membersihkan halaman sekolah serta petugas keamanan yang siap berjaga.
Beberapa jam setelahnya, nampak kedua anak yang berkelahi tadi diiringi masing-masing orang yang pendamping mereka, keluar dari ruangan. Mereka berdua terpaksa dipulangkan untuk menghindari, hal yang sama terulang kembali. Keduanya nampak masih bersitegang dengan muka masam, tanpa saling sapa.
Keesokan harinya setiba di ruang kelas, Angger dikerumuni teman-temannya yang sibuk menanyakan padanya perihal perkelahiannya dengan Boni. Angger hanya tersenyum dan berlalu pergi, enggan memberikan penjelasan pasti. Didik teman dekatnya segera mengejarnya, ia heran tak biasanya Angger bersikap demikian. Angger merupakan salah satu anak berprestasi, ia dikenal ramah pada setiap orang. Hal tersebutlah yang membuat teman-temannya tak percaya bahwa ia berkelahi dengan Boni.
"Woy, tungguin ane ngger. Oke ga apa ente ga mau cerita sekarang, ane yakin ente punya alasan tersendiri. Ane cukup kenal ente dengan baik, kuy lah kita ke kantin. Ane laper belum sarapan." Tukas Didik mengajak Angger untuk sarapan bersama di kantin sekolah.
Di kantin mereka disapa dengan tatapan sinis anak-anak yang sibuk menyebut-nyebut namanya. Namun Angger tidak mempedulikannya, ia tetap tersenyum ramah pada mereka. "Ngger, ente mau sarapan apa? tenang ane yang bayar." ucap Didik yang seperti sengaja mengalihkan fokus Angger dari anak-anak lain yang memandangnya dengan sinis. Didik adalah teman baik Angger, mereka sudah berteman sejak duduk dibangku sekolah dasar.
Hari itu Boni tak nampak hadir sekolah, tidak ada yang tau alasan ketidakhadirannya. Sesekali Angger pun nampak terlihat memandangi tempat duduk Boni, ia nampak menyesal dengan kejadian kemarin.
"Halo selamat siang, benar ini dengan keluarga Boni?" Terdengar suara seorang wanita dalam percakapan telepon.
"Benar, saya Tina pembantu rumah tangga disini. Ada apa ya bu?."
"Saya Amel wali kelas Boni, saya ingin memastikan apakah Boni baik-baik saja? karena hari ini Boni tidak hadir sekolah."
"Boni baik bu, tadi pagi ia pergi untuk berangkat sekolah. Ia memakai seragam dan membawa tas sekolahnya bu. Sekarang ia belum pulang."
"Tolong sampaikan kepada Boni untuk menemui saya besok pagi sebelum jam masuk sekolah."
"Baik bu, nanti akan saya sampaikan pada Boni."
"Terima kasih bu dan selamat siang."
Selepas telepon ditutup, tak lama Boni pulang tanpa mengucap salam dan bergegas masuk ke kamar. "Mas Boni tadi Bu Amel menelpon, besok mas Boni diminta menemui beliau sebelum jam masuk sekolah. Tadi Mas Boni kenapa tidak masuk sekolah?." Bi Tina langsung menyergap bertanya. Namun Boni mengacuhkannya, ia mendengarkan tanpa memberi jawaban. Ia tetap berjalan memasuki kamarnya.
"Astaghfirullah, paringono sabar gusti." Ucap Bi Tina sambil mengelus dada.
Singkat cerita, esoknya Boni datang langsung menemui Bu Amel. Tanpa salam seketika ia duduk didepan meja Bu Amel.
"Ibu meminta saya menemui ibu hari ini? Ada apa bu?" ucap Boni, tanpa rasa canggung dan bersalah.
"Kamu kenapa kemarin tidak masuk Boni?" Tanya Bu Amel.
"Ga apa-apa bu, saya males aja. Kenapa ibu peduli? Orang tua saya saja tidak mau tau keadaan saya. Mereka hanya sibuk dengan pekerjaannya. Saya berkelahi saja mereka tidak tahu, yang datang justru Bi Tina. Jadi untuk apa saya rajin datang sekolah bu?" Ucap Boni dengan nada ketus.
"Baik, sepertinya kita perlu keluar menghirup udara segar sebentar. Hari ini kamu tidak perlu masuk kelas, nanti akan ibu izinkan pada guru yang mengajar hari ini. Kamu ikut ibu ya, kita keliling kota Jakarta." Bu Amel dengan tenang menanggapi, beliau mulai mengerti sebab kenakalan Boni.
Boni mengangguk menandakan ia menyetujuinya. Mereka bergegas pergi setelah Bu Amel meminta izin guru lain untuk pergi keluar. Mereka berlalu dengan mobil yang dikendarai Bu Amel. Di tengah perjalanan Bu Amel memanfaatkan kesempatan untuk membangun kedekatan dengan Boni. Mereka berbincang ringan, terlihat Boni mulai tertawa lepas dan melupakan permasalahan yang terjadi.
Sekitar 30 menit perjalanan, mereka tiba di daerah pemukiman kumuh pinggiran kota Jakarta. Boni dengan muka heran bertanya, "Kita ngapain kesini bu?". Bu Amel tersenyum tidak menjawab dan mengajak Boni turun mobil, mereka berjalan menyusuri pemukiman kumuh. Memandangi para pemulung dan anak-anak jalanan yang sibuk berlalu lalang mencari uang demi sesuap makan.
"Coba kita perhatikan mereka, mereka tanpa mengeluh tetap riang meski dihimpit oleh kesulitan ekonomi. Mereka adalah anak-anak yang berharap bisa sekolah, namun keadaan ekonomi tidak mendukungnya. Mereka yang menyembunyikan kesedihan dibalik tawa riang. Tidakkah kamu bersyukur Boni? Coba sebentar saja kamu bayangkan, bagaimana jika kamu ada diposisi mereka?" Ucap Bu Amel mencoba menyadarkan Boni.
"Ini bukan kemauan mereka, namun keadaan yang memaksa mereka untuk terus bekerja dan melupakan keinginan mereka untuk bersekolah. Kita boleh saja mengeluh, namun jangan sampai menyerah. Rezeki memang sudah Tuhan jaminkan, namun kita tetap harus berusaha. Kamu begitu beruntung, orang tua kamu mampu membiayaimu untuk sekolah. Jadi pesan ibu, jangan sia-siakan itu. Boleh saja kamu mengeluh ketika mereka lebih sibuk bekerja, namun sebenarnya mereka menyayangimu lebih dari yang kamu tahu." Sambung Bu Amel.
Boni nampak diam merenungi ucapan Bu Amel, ia nampak setuju dengan ucapan Bu Amel meski raut wajahnya masih nampak sedikit tidak terima.
"Jadi ayo Boni, buktikan pada orang tua kamu bahwa kamu mampu berprestasi. Cari perhatian dengan cara yang positif, dengan pembuktian prestasi. Saya yakin kamu mampu, jika ada kemauan pada dirimu. Saya akan selalu dukung kamu, saya mungkin tidak bisa menggantikan kasih sayang mereka namun setidaknya kamu tahu. Masih ada orang yang akan menjadi pendukungmu selain orang tuamu. Semangat Boni." Ucap Bu Amel menyemangati Boni.
"Oh ya, kalau boleh saya tahu, sebenarnya apa sebab kamu dan Angger berkelahi?" Tanya Bu Amel dengan rasa penasarannya.
"Itu karena saya mengejeknya, saya iri dengannya yang berprestasi dan orang tuanya selalu hadir ketika pembagian rapot. Terlihat seperti hidupnya begitu sempurna, berbeda dengan saya. Jika ada pertemuan orang tua pun, yang hadir selalu Bi Tina. Orang tua saya selalu sibuk dengan pekerjaannya. Setiap saya pulang, tidak ada yang menyambut. Mereka selalu pulang larut ketika saya sudah tidur dan berangkat ketika saya belum bangun. Selalu seperti itu, membuat saya tidak betah dirumah." Ucap Boni dengan muka masamnya.
"Baik, ibu paham bagaimana perasaaan kamu. Mulai hari ini kamu harus lebih rajin lagi belajar, buktikan pada orang tua kamu jika perjuangan mereka tidak sia-sia. Kita harus berpikir positif dalam menghadapi suatu hal, sebentar lagi ujian sekolah. Buktikan bahwa kamu berprestasi, belajar lebih giat agar dapat masuk perguruan tinggi yang kamu ingini." Ucap Bu Amel.
Mereka kembali ke mobil dan Bu Amel mengantar Boni pulang ke rumahnya.
Waktu berlalu ujian sekolah pun tiba, para siswa sibuk mempersiapkan diri. Boni termasuk didalamnya, ia sudah berubah semenjak pertemuannya kala itu dengan Bu Amel. Ia menjadi anak yang lebih rajin datang sekolah dan tidak pernah berkelahi, meski ia belum sepenuhnya berhubungan baik dengan Angger. Namun mereka tetap berteman seperti anak-anak pada umumnya.
Singkat cerita hasil ujian sekolah diumumkan, meski Boni tidak menjadi juara umum seperti Angger, namun ia menjadi juara diperingkat ketiga. Hubungan dengan orang tuanya pun nampak membaik, orang tuanya menghadiri kelulusan SMA Boni. Mereka berfoto bersama dengan bahagia.
Happy ending 😍
ReplyDeleteUhuyyy kren ka.
ReplyDeleteTokoh utamanya si boni kali ya.
Aku kesulitan baca angger, jdi keinget buah hehe
Mungkin sebaiknya dikasih sekat antara satu situasi dengan situasi yang lainnya, kak...
ReplyDeleteDari percakapan di kantin, langsung ke percakapan via telp antara Bu Amel dan Bi Tina, membuat saya mengulang bacaan, hehe..
Pesan moralnya dapet, bagus..
andai semua guru seperti Bu Amel.. 💝
Mantaap kak.
ReplyDeleteBagus ceritanya..menginspirasii
ReplyDelete