Merusak Tetapi Dicintai

Apa yang terlintas dalam pikiran kalian, ketika membaca judul tulisan ini? Pasti selintas terpikir, sudah tahu merusak tetapi mengapa masih dicintai? tinggalkan saja tidak perlu diambil pusing. Tunggu sebentar, kita tidak sedang membahas perihal "Dunia Percintaan". Lalu membahas apa? Baik, ambil napas dan buang perlahan. Kita perlu konsentrasi dan perenungan yang mendalam.

Judul diatas merupakan salah satu sub judul topik pembahasan dalam buku Positive Parenting karya Ustadz Mohammad Fauzil Adhim. Merusak Tetapi Dicintai, pernahkan kita memikirkan dampak positif dan negatif suatu hal yang kita cintai? Ya... hal yang perlahan tapi pasti mengubah kita menjadi baik atau justru sebaliknya. Salah satu nya dampak penggunaan televisi, benda satu ini merupakan benda yang dapat merusak pola pikir kita dan anak-anak jika tidak diberikan batasan dalam penggunaanya. 

Sadarkah kita akan hal itu? saat ini, tayangan televisi sebagian besar tidak memberikan pesan positif. Salah satunya serial televisi "sinetron", yang justru menayangkan tayangan yang tidak patut ditiru. Televisi memberikan dampak atau pengaruh secara tidak langsung, dimana lambat laun anak-anak meniru perilaku tayangan yang dilihatnya. Banyak dari para orang tua mengeluhkan dampak buruk bagi anaknya atas benda yang tidak bisa menyala kecuali dialirkan listrik ini.  Mereka marah karena anak-anaknya berubah, namun mereka juga marah bila benda tersebut rusak sedikit saja. 

Banyak dari mereka yang meminta saran mengatasi persoalan tersebut, namun ternyata tak sesederhana itu. Mereka diberi saran untuk mematikan televisi yang ada diruang tamu dan hati mereka, tapi sepertinya mereka yang paling tidak siap jika tidak melototkan matanya ke layar kaca. Inginnya terpaku didepan televisi sementara anak-anak dapat terhindar dari dampak negatifnya. Mereka beranggapan bahwa anak-anak belum waktunya banyak melihat televisi karena belum mampu menyerap dengan cerdas, sedangkan orang tua cukup dapat menyaring mana yang baik dan buruknya. 

Rasanya sulit dibayangkan bila televisi dimatikan di rumah, namun perbincangan para orang tua menunjukkan antusiasme terhadap tayangan-tayangan yang mereka lihat.

"Jadi, mematikan televisi di rumah harus disertai dengan kesungguhan untuk mematikan televisi di hati kita !!!" 

Hidupkanlah televisi untuk dinikmati bersama seluruh anggota keluarga jika memang ada tayangan-tayangan yang bergizi untuk jiiwa. Hanya yang perlu diperhatikan, syarat terpenting adalah menunjukkan sikap mental "untuk menunjukkan agar perlunya saja". Seperlunya saja, serta perlu pendampingan orang tua saat anak menonton televisi agar dapat berjalan relatif efektif. 

Selain sikap mental yang benar, efektif tidaknya kita mendampingi anak nonton televisi juga dipengaruhi oleh :
1. Ketepatan waktu mengkomunikasikan komentar agar anak tidak merasa terganggu.
2. Ketepatan cara menyampaikan 

Orang tua harus mengemukakan dengan cara bersahabat, akrab dan hangat. Cara ini Insyaa Allah membuat pesan-pesan orang tua lebih membekas pada diri anak, kecuali jika tayangan televisi dikemas dengan cara yang sangat menarik sehingga sangat merebut perhatian anak. Jika saran saya pribadi, sebaiknya tidak perlu ada televisi di rumah. Namun ini kembali pada hasil perundingan antar anggota keluarga, yang terpenting adalah lakukan yang terbaik untuk anak-anak untuk masa depan terbaiknya kelak.

Comments

Popular posts from this blog

Resensi Buku "Hidup Sekali, Berarti, Lalu Mati"

Perbedaan dan Persamaan Tradisi Negara Indonesia dan Arab

Mari Berkaca