Anak Emas
ADAPTASI
CERITA RAKYAT TIMUN MAS
Di sebuah
desa daerah Jawa, hiduplah sepasang suami istri yang hidup sederhana namun bahagia.
Mereka selalu bersyukur terhadap segala karunia dan rezeki yang Allah berikan. Meski
suaminya hanya berprofesi sebagai seorang guru dan istrinya hanya sebagai ibu
rumah tangga, namun tak pernah ada keluh kesah diantara mereka berdua mengenai
rezeki yang didapatnya. Mereka terkenal ramah dan santun dalam hidup bertetangga,
rumah tangganya pun terlihat damai dan tentram penuh ketenangan.
Namun kehidupan
berumah tangga tidak akan lengkap tanpa kehadiran sang buah hati, mereka sudah
berusaha untuk melakukan beragam usaha. Hingga suatu hari ada seorang tetangga
yang menawarkan untuk mendatangi seorang yang terkenal memiliki ilmu ghaib yang
konon katanya bisa mengabulkan permintaan setiap orang yang mendatanginya.
Sontak suami istri tersebut menolak dengan santun tawaran tersebut, mereka
adalah sepasang suami istri yang taat beribadah. Mereka tahu itu adalah perbuatan
yang syirik, dapat merusak akidah dan sangat dibenci Allah.
Mereka tetap
percaya bahwa Allah akan menitipkan amanah anak di waktu yang tepat. Waktu
terus berjalan, mereka semakin meningkatkan ketaatan kepada Allah dengan rajin
beribadah bersama, menambah amalan sunah, berpuasa, bersedekah dan amalan-amalan
lain yang semakin mendekatkan diri mereka kepada Allah. Selain itu mereka
belajar ilmu parenting bersama, menghadiri majelis ilmu sehingga menambah rekan-rekan
soleh solehah yang tentu semakin membuat ketaatan bertambah serta rajin berdoa agar
Allah berkenan menitipkan amanah anak-anak yang soleh solehah kepada mereka.
Tidak hanya
mendekatkan ketaatan pada Allah, mereka pun berusaha menjadikan diri bermanfaat
untuk sesama. Mereka berkolaborasi bersama untuk menebar kebaikan, sang istri
yang tadinya hanya seorang ibu rumah tangga. Berbekal ilmu yang telah ia
dapatkan dari jenjang kuliahnya ia mengajarkan anak-anak yang kurang mampu,
mengenai ilmu umum. Serta sang suami selepas bekerja, mengajar anak-anak
sekitar untuk mengaji. Lambat laun mereka pun menganggap anak-anak didiknya
sebagai anaknya sendiri.
Hingga suatu hari
Allah menjawab usaha dan doa-doa yang selalu mereka panjatkan, setelah mereka
bersabar dan tawakal. Sang istri positif mengandung, sejak awal kandungan, suami
istri tersebut benar-benar menjaganya. Mereka memperdengarkan ayat-ayat suci Al
Qur’an, mengenalkan Allah dan rosul-Nya sejak dalam kandungan melalui
kisah-kisah yang dibacakan. Meski masih dalam kandungan, bayi dapat mendengar
suara.
Saat usia
kandungan menginjak 7 (tujuh) bulan, dokter sempat mengabarkan bahwa anak yang
dikandung tidak akan hidup lama setelah melahirkan. Kabar tersebut awalnya membuat
sepasang suami istri ini terkejut, namun mereka percaya kehidupan dan kematian
seseorang sudah Allah tetapkan, sehingga mereka tidak khawatir terhadap kabar
yang dokter sampaikan. Mereka mempercayakan sepenuhnya kepada Allah bahwa rencana
dan ketetapan-Nya adalah yang terbaik.
Tiba saatnya
pada hari yang dinantikan, hari dimana anak mereka lahir ke dunia. Anak
perempuan yang cantik dan sehat, betapa bersyukurnya mereka. Ibu dan bayinya dalam
keadaan selamat, segala puji bagi Allah... Rabb Yang Mengabulkan segala
permintaan baik hamba-Nya.
Hari demi
hari berlalu mereka merawat dan mendidik anak itu dengan penuh kasih sayang,
mereka sangat menjaga amanah yang Allah titipkan. Sejak lahir mereka menanamkan
ketaatan kepada Allah dan mengikuti sunnah-sunnah Rosul, sebagai bukti
kecintaan kepada Allah dan rosul-Nya. Anak cantik itu tumbuh menjadi anak yang
shalihah, yang mematuhi kedua orang tua karena perintah Allah. Anak perempuan
yang tumbuh dengan rasa malu, menjaga dirinya karena rasa takutnya kepada
Allah.
Suatu hari sang
anak jatuh sakit hingga berhari-hari tak kunjung sembuh, sang istri pun khawatir
dengan perkataan dokter yang jauh hari mengabarkan bahwa anak mereka tidak akan
hidup lama. Namun sang suami menasihati istrinya untuk tetap teguh percaya bahwa
anaknya pasti sembuh karena Allah pasti menyembuhkannya. Mereka pun berikhtiar
membawa sang anak ke dokter, mereka berdoa sepanjang malam dalam sepertiga
malamnya. Mereka memohon agar Allah menyembuhkan penyakit sang anak. Singkat
cerita setelah melakukan berbagai rangkaian pemeriksaan dan pengobatan, dengan
izin Allah sang anak dinyatakan sembuh.
Segala puji
bagi Allah, ketika kita percaya pada Kuasa Allah. Allah akan membuktikan
janji-Nya. Sepasang suami istri serta sang anak pun begitu bersyukur, sehingga
semakin bertambah pula ketaatan mereka kepada Allah. Kehidupan mereka semakin
bahagia ketika sang anak tumbuh dewasa, menjadi anak yang shalihah, cantik dan mengabdikan
dirinya pada masyarakat. Sebagai seorang guru mengaji dan mengajarkan ilmu umum
yang mengajarkan anak-anak kurang mampu tanpa biaya di sekolah yang orang
tuanya dirikan.
Hingga suatu
hari datang seorang pria sholih yang melamarnya dan mereka pun menikah serta tinggal
tidak jauh dari rumah orang tuanya. Mereka hidup bahagia dan dikaruniai banyak
anak-anak shalih dan shalihah yang tumbuh dalam ketaatan kepada Allah dan
rosul-Nya.
Cerita diatas
merupakan improvisasi dari cerita rakyat timun emas, dari cerita tersebut kita
dapat mengambil pesan hikmah untuk selalu percaya pada rencana dan ketetapan
Allah subhanahu wa ta’ala. Tidak menyekutukan Allah atau percaya pada selain
Allah, karena itu merupakan perbuatan syirik yang sangat dibenci oleh Allah.
Perbuatan yang dapat merusak akidah kita sebagai umat islam. Ketika kita
percaya pada Allah, maka Allah akan membuktikan kuasa-Nya.
Pesan lain
adalah dalam menghadapi segala ujian kehidupan, hadapilah dengan sabar dan solat.
Seperti pada firman Allah dalam surah Al Baqarah ayat 45, berikut penggalan
terjemahan ayat tersebut :
“Jadikanlah
sabar dan shalat sebagai penolongmu.”
Selain
sabar dan solat, hendaknya kita juga berikhtiar dan bertawakal terhadap segala
ketetapan Allah. Karena ketetapan Allah merupakan ketetapan yang terbaik, seperti
dalam surat Al Baqarah ayat 216, berikut penggalan terjemahan ayat tersebut :
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat
baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk
bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”
Kita hanya dapat melihat suatu hal dari yang nampak saja,
pandangan kita terbatas. Sedangkan Allah Maha Mengetahui segalanya. Dari cerita
diatas kita juga dapat mengambil pesan, bahwa sebagai makhluk sosial kita juga mengusahakan
diri dapat bermanfaat untuk orang lain. Karena sebaik-baik manusia adalah
manusia yang bermanfaat untuk manusia lain.
Pesan ini juga merupakan pesan untuk pengingat diri
penulis, sebelum mengingatkan kepada khalayak ramai. Cerita diatas merupakan
cerita yang dibuat untuk memenuhi tantangan pekan 4 (empat) pada ODOP batch 7.
Semoga pesan yang terkandung dalam cerita dapat sampai ke hati para pembaca.
Mohon maaf apabila ada kesalahan kata yang memperburuk makna, sekian dari
penulis jika ada kritik dan saran sangat dipersilahkan dituangkan dalam kolom
komentar. Sekian dan terima kasih.
timun mas versi syar'i nih keren
ReplyDeleteNah, ini timun mas yg bener Hehehe, tidak bersekutu dgn Setan,Hehehe, mantep
ReplyDeleteNasehatnya pas bgtt... π
ReplyDeleteNyampai kak pesannya π
ReplyDeleteSarat maknaπππ
ReplyDeleteSpeechless... improvisasinya bikin adem dan pesannya kena pas semuanya ππ
ReplyDeleteanak emas versi muslimπ
ReplyDeleteTimun emas yang jadi anak emas nii yee
ReplyDeleteaihhh dari timuun mas rupanya
ReplyDeleteBagus ceritanya kak..si timun jadi emas eh anak emas..hihi.mantul
ReplyDeletePesan tersampaikan. Untuk para jomblo calon mempelai dunia. Hehe...
ReplyDeleteCatatan jomlo: cari pasangan yang taat sama Allah, biar aman dunia akhiratnya.
ReplyDelete