Belajar dari Raina

Sebagian besar orang tidak menyukai hari senin, namun tidak berlaku untuk raina. Gadis mungil berusia 7 (tujuh) tahun yang seharusnya menduduki bangku sekolah dasar. Namun bersekolah hanya menjadi impian saja dibenak raina, karena keluarganya tak mampu membiayainya sekolah. Raina tinggal bersama neneknya dipinggiran rel kereta, orang tuanya sudah meninggal ketika ia berusia 3 (tiga) tahun. 

Raina adalah gadis yang periang, ia tak pernah mengeluh dengan keadaan dirinya. Setiap harinya ia berkeliling jalanan ibukota untuk menjual dagangannya. Raina berjualan untuk membantu neneknya yang sudah tua, mencukupi kebutuhan makan sehari-hari. Kerasnya ibukota tak menjadi alasan untuk membuatnya menyerah berjualan. Raina tidak punya saudara, ia hanya memiliki beberapa teman yang tinggal di daerah pinggiran rel kereta. 

Sore itu tak seperti hari-hari sebelumnya hujan turun membasahi bumi, menimbulkan bau harum tanah basah yang menyegarkan. Ditengah padatnya jalanan ibukota, kendaraan saling bersautan membunyikan klakson karena tidak ada yang mengalah macet pun tak terhindarkan. Ada sebagian orang yang berteduh menanti hujan reda, ada juga yang tetap melanjutkan perjalanan meski hanya menggunakan jas hujan plastik seadanya. 

Raina termasuk diantara mereka, berjalan kaki dengan menutup kepala menggunakan plastik. Alhamdulillah saat itu dagangannya sudah habis terjual, sehingga ia tak khawatir untuk terus menerjang hujan karena ingin cepat pulang menemui neneknya yang sedang sakit di rumah. Usia nenek raina yang sudah tua renta, membuatnya rentan terserang sakit. Raina merupakan gadis yang kuat dan berfikiran dewasa di usianya yang masih belia, meski lelah ia tetap menutupinya dengan bertingkah riang dihadapan neneknya.

Raina juga anak yang punya semangat belajar tinggi, jika waktunya sedang luang ia manfaatkan untuk membaca buku pelajaran yang dipinjam dari temannya. Semangat raina tentu membuat kita malu, jika dengan banyak nikmat yang telah Allah beri dan segala hal yang Allah titipkan tidak membuat kita bersyukur dan masih tetap mengeluh pada keadaan. Bukankah mengeluh tidak akan menyelesaikan masalah? Boleh saja mengeluh, ya... keluhkan segala masalah hanya di sepertiga malam dengan menengadahkan tangan penuh harap pada Allah, yang sudah pasti akan memberikan kemudahan dan jalan keluar dari masalah yang kita hadapi.

Comments

  1. Aku dipanggil Tiana, nama motorku Rania. Eh, ini judul postingannya Raina. Ihihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehe mikir dari temanya, basah teringat hujan jadilah disahkan nama raina bahasa inggrisnya hujan ditambah a :D

      Delete
    2. nama motorku whitney tapi dia sudah dijual :(

      nama raina karena rain adalah ide menarik :)

      Delete
  2. Ponakanku Dante Rain...wah kasian si Raina 😢

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Letak Geografis Jazirah Arab

Resensi Buku "Hidup Sekali, Berarti, Lalu Mati"

Perbedaan dan Persamaan Tradisi Negara Indonesia dan Arab